Jan
Kisah Junaidi, Mualaf yang Baru Dikhitan di Usia 17 Tahun
Penasaran, Mengaku Tidak Malu atau Takut
Di antara 200 peserta khitanan masal yang digelar Guyub Bojonegoro di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, kemarin ada yang sudah berusia 17 tahun. Karena paling tua, remaja itu sempat menjadi perhatian.SRI WIYONO, Bojonegoro
—
Para peserta sunatan masal itu duduk di dua deret kursi kehormatan. Mereka memakai kopiah kain putih dan baju koko yang juga putih, serta bersarung. Sedangkan duduk di kursi yang berada di belakang deretan kursi kehormatan itu orang tua peserta sunatan masal.
Bersamaan dengan itu, suara musik rebana yang mengiringi lagu puji-pujian terus berkumandang. Para peserta sunatan masal yang digelar Guyub Bojonegoro, yakni paguyuban warga Bojonegoro yang merantau di luar daerah, itu kemarin benar-benar bagai raja sehari. Mereka dilayani semua keperluannya.
Tinggi peserta sunatan masal yang dilaksanakan di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, tepatnya di rumah Muhantoyo, pensiunan polisi yang kini menjadi orang sukses di Jakarta, itu saat duduk terlihat sama, kecuali satu peserta yang tingginya kelihatan menonjol. Peserta ini duduk di kursi deret kedua nomor dua dari kanan. Dialah Junaidi, 17, peserta tertua sunatan masal itu. Saat digoda oleh peserta yang lain, dia hanya senyum-senyum.
Kepada wartawan koran ini yang mewawancarainya sebelum khitanan, dia mengaku mantap dan tidak takut dikhitan. Dia juga mengaku tidak malu, meski baru dikhitan ketika sudah remaja.
Junaidi lahiran di Kupang, NTT, dan baru sekitar satu tahun berada di Bojonegoro. Saat ini, dia tinggal di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro.
Dia menceritakan, saat masih tinggal di Kupang, dirinya nonmuslim. Budaya khitan juga jarang dilakukan di daerahnya itu. Dia ke Bojonegoro ikut kakaknya yang menikah dengan warga Blora. Kakaknya itu pindah ke Bojonegoro karena ikut suaminya sejak setahun lalu. Dia ikut kakaknya. Saat di Bojonegoro, dia masih berusia 16 tahun, dan tetap pada keyakinan lamanya.
Lulusan sebuah SMP di Kota Kupang itu kemudian mengikuti kakaknya yang menjadi mualaf (pemeluk baru Islam). Dari situ pula dia tahu bahwa sebagai muslim dirinya juga harus dikhitan. Dia pun minta untuk dikhitankan.
Namun, karena satu hal, baru kemarin niatnya itu kesampaian. “Saya didaftarkan khitan masal ini oleh kakak saya,” katanya.
Dia mengaku sama sekali tidak takut. Bahkan, dia penasaran, seperti apa dikhitan. Karena menjadi peserta tertua, dia menjadi bahan perhatian peserta lain, juga panitia dan warga sekitar perhelatan acara yang menyaksikan. Namun, dia menganggap semua itu bukan hal yang menganggu. Dia tetap terlihat tenang.
Karena “paling beda”, dia menerima potongan tumpeng pertama yang dilakukan oleh bupati. Setelah memotong tumpeng, bupati mengambil nasi dan lauk kemudian menyerahkannya kepada Junaidi sebagai perwakilan peserta. Tumpeng itu untuk syukuran acara tersebut. Bupati sempat menanyakan umur dan asal Junaidi. “Saya dari Kupang, umur saya 17 tahun,” kata Junaidi menjawab pertanyaan bupati.
Sementara itu, Darno, ayah angkat Junaidi sekaligus mertua kakaknya, mengatakan, Junaidi memang mualaf. Menurut Darno, Junaidi sering tanya banyak hal.
Saat dia menyatakan ingin seperti kakaknya (masuk Islam), Darno mengatakan bahwa seorang lelaki muslim harus dikhitan. Saat itu dia bilang berani dan setuju. “Ya, akhirnya ikut khitanan masal ini,” tutur Darno.
Di mata Darno, Junaidi anak yang rajin. Selama tinggal di rumah Darno, sebelum ikut di rumah kakaknya, Junaidi membantu apa saja yang bisa dilakukan di rumah Darno. Misalnya, bersih-bersih rumah. “Dia rajin, terkadang juga membantu di dapur,” tambahnya.
Namun, saat ini Junaidi ikut di rumah kakaknya, yakni menantu Darno. Di rumah kakaknya, Junaidi juga tetap membantu merawat rumah kakaknya itu.
Sementara itu, acara pembukaan sunatan masal itu dilakukan dengan pemukulan kentongan oleh tuan rumah. Kemudian, dari kursi utama para peserta sunatan diarak ke pendapa tempat sunatan masal digelar. (*)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=150325&c=87