Jalur Lintas Selatan (JLS) yang telah lama tak ada kabarnya setelah diwacanakan M. Santoso di awal jabatannya sebagai Bupati Bojonegoro, kini mencuat lagi. Ini setelah UEM, salah satu BUMN Malaysia, menyatakan tertarik membangun jalan tol di jalur tersebut.

Arif Kamarudin, ketua Gapima (Gabungan Pengusaha Indonesia-Malaysia), yang kemarin mendampingi wakil UEM, menyatakan, pembangunan jalan tol sangat diperlukan bagi Bojonegoro yang sebentar lagi menjadi kota industri dengan hasil terbesar minyak bumi. “Dan JLS merupakan sarana alternatif yang tepat,” katanya.

Menurut dia, sebenarnya beberapa waktu lalu UEM sudah datang ke Bojonegoro. Namun, saat itu baru sebatas untuk penjajakan.

Sedangkan kemarin, rombongan UEM diterima Bupati Santoso, Sekkab Bambang Santoso, serta sejumlah kepala dinas dan BUMD Bojonegoro. Pertemuan digelar di Ruang Batik Madrim kompleks kantor Pemkab Bojonegoro.

Dalam kesempatan itu Santoso menyatakan, dirinya berharap JLS tidak dibangun menjadi jalan tol. Dia ingin JLS dibangun sebagai akses berupa highway (jalan raya/besar).

“Karena, kasihan masyarakat Bojonegoro jika harus lewat jalan sendiri harus bayar. Mereka kan rakyat kecil,” katanya.

Meski demikian, Santoso menyambut baik niat investor tersebut. Dia juga berharap masalah itu bisa dibicarakan lebih teknis lagi. “Kami juga punya banyak program yang akan kami tawarkan juga,” imbuhnya.

Seperti diberitakan, JLS diwacanakan Santoso di awal masa dia menjabat bupati Bojonegoro pada 2003 lalu. Namun, hingga menjelang akhir masa jabatan dia, wacana itu hanya sebatas wacana. Tidak ada langkah konkret untuk menindaklanjuti. (sumber: Radar Bojonegoro)