Lega. Itulah perkataan yang muncul dari Bupati Bojonegoro M. Santoso tentang Pasar Sumberrejo yang baru diresmikannya belum lama ini. Saat ini, pedagang sudah bisa berjualan seperti semula.

Santoso bersyukur karena dengan selesainya pembangunan sekaligus peresmian pasar itu berarti satu tugas besar dapat diselesaikan dengan baik. Sebab, sebelum pasar tersebut dibangun, sempat terjadi silang pendapat antara pemkab dan beberapa orang yang mengatasnamakan Asosiasi Pedagang Pasar Sumberrejo (APPS), Bupati Santoso sampai-sampai di peradilankan melalui Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya.

Meski demikian, Santoso mengaku sedikit pun tidak merasa sakit hati.

Bagaimana pun, kata dia, APPS adalah warga Bojonegoro yang peduli terhadap lancarnya pembangunan.

“Buat apa sakit hati. Bojonegoro itu ibarat satu keluarga. Dalam satu keluarga, terjadi silang pendapat adalah hal yang wajar. Toh sebenarnya juga sama-sama punya niat baik,” kata bupati kelahiran Desa Pasinan, Kecamatan Baureno, itu.

Santoso justru menganggap bahwa APPS sangat membantu kinerjanya agar menjadi lebih baik. Asal dilakukan secara realistis, kata Santoso, kontrol masyarakat, termasuk APPS, sangat diperlukan Bojonegoro yang sekarang ini sedang giat-giatnya membangun.

“Alkhamdulillah, sekarang semuanya sudah berlalu. Saatnya kita menatap masa depan yang lebih baik, dan harus melupakan masa lalu,” kata mantan Kadolog Bali dan Papua itu.

Namun, Santoso menjelaskan bahwa pembangunan pasar Sumberrejo itu mempunyai tiga harapan. Pertama, selain untuk menjamin kenyamanan pedagang dan pembeli dalam bertransaksi. Kedua, pembangunan pasar tersebut juga untuk mengurangi kemacetan arus lalu lintas jalan raya di utara pasar.

Selain itu, kata dia, pembangunan pasar itu juga semata-mata untuk kepentingan masyarakat Sumberrejo dan sekitarnya. “Sekali lagi, saya bersyukur kepada Allah SWT karena bisa memberi yang terbaik bagi warga Sumberrejo dan sekitarnya,” kata pria yang juga ketua DPC Partai Demokrat (PD) Bojonegoro itu.

Sebelum dibangun, kata Santoso, pasar Sumberrejo itu memang tampak semrawut. Selain terlihat kumuh, arus lalu lintas jalan raya di utara pasar tersebut juga macet karena terganggu melubernya pedagang yang menggunakan ruas jalan. Akibatnya, pengguna jalan menjadi terganggu. Melihat pemandangan seperti itu, Santoso jelas tidak tinggal diam, dan akhirnya dibangunlah pasar tersebut. “namun sekarang ini, pemandangan tersebut sudah tidak terlihat lagi,” kata Santoso.

Untuk ke depan, Santoso mempunyai pemikiran bahwa beberapa pasar dan sentra-sentra ekonomi akan diperbaiki sesuai kebutuhan. Kalau memang perlu dibangun, dia tidak keberatan untuk merealisasikannya. “Tapi, kalau hanya perlu perbaikan, ya akan kita perbaiki. Semua itu dilakukan untuk menjamin kenyamanan pedagang-pembeli di sentra-sentra ekonomi tersebut,” katanya.

Menandai peresmian pasar Sumberrejo, Santoso bersama warga Sumberrejo dan sekitarnya nonton bareng pergelaran wayang kulit yang digelar di utara halaman pasar. “Idealnya, bupati dan warga harus sering-sering menyambung tali silaturahmi. Sebab, keduanya memang tidak bisa dipisahkan,” kata Santoso. (sumber: Radar Bojonegoro)