Jun
Warga trauma dengan kasus Lapindo
Masyarakat Bojonegoro masih trauma dengan kasus semburan lumpur Lapindo juga terjadi di wilayah mereka. Mereka mengkhawatirkan ada semburan lumpur saat ekplorasi sumur minyak di Banyu Urip. Untuk itu warga meminta pihak Mobile Cepu Limited (MCL) agar potensi tersebut bisa diminimalisir sekecil mungkin.
Selain itu, warga juga meminta agar dalam sosialisasi mendatang dijelaskan pula adanya transparansi AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan). Sehingga masyarakat bisa tahu sejauh mana upaya yang telah dilakukan Exxon.
Menurut Nurul Jariyatin, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) cabang Bojonegoro, Senin (25/6), potensi semburan lumpur juga dimungkinkan terjadi di wilayahnya. Sebab jika mengaca pada semburan lumpur di Porong, Sidoarjo kemungkinan semburan lumpur itu juga bisa terjadi di Bojonegoro.
“Untuk itu kami minta agar Exxon melakukan upaya konkrit agar persoalan itu tidak tejadi disini. Sebab terus terang kami juga merasa resah,” katanya, sewaktu dialog sosialisasi pelepasan lahan untuk ekplorasi sumur minyak Banyu Urip di Pendopo Malopati, Bojonegoro, Senin.
Dalam hal ini harusnya masyarakat diberitahu dengan jelas apa upaya yang telah dilakukan Exxon mengantisipasi hal-hal tersebut. Terlebih pada saatnya nanti yang pertama merasakan akibat dari itu adalah masyarakat kecil.
“Selama ini pihak Exxon maupun MCL belum melakukan hal itu. Padahal ini persoalan sangat penting untuk segera diketahui masyarakat, terutama warga sekitar sumur,” kata Yakub, warga Bojonegoro.
Kecil kemungkinan
Wakil Ketua Badan Pelaksaana Minyak dan Gas untuk kegiatan Bisnis Hulu) BP Migas, Abdul Mu’in kecil kemungkinan ‘Kasus Lapindo’ terjadi di Bojonegoro. Sebab kalau melihat kondisi geologis, kata dia, tidak mengarah ke sana. “Terlebih, Exxon memiliki persyaratan sangat tinggi untuk lingkungan.”
Dengan persayaratan sangat tinggi tersebut secara otomatis akan membuat biaya yang dikeluarkan juga menjadi mahal. Tapi, dari sanalah Exxon menjadi perusahan migas terkemuka di dunia.
Maman Budiman, Vice President MCL mengakui semburan lumpur memang dimungkinkan terjadi dimana-mana. Namun, pihaknya telah memiliki seperangkat tehnologi canggih untuk mengantisipasi hal tersebut.
“Kami sudah memiliki tehnologi yang mampu mengkaji sejauh mana, dan kapan potensi tersebut bisa terjadi. Jadi kami minta agar masyarakat jangan kuatir,” tandasnya optimistis.