Calon Guru Dibekali Kecerdasan Hati
Posted on 20. Nov, 2007 by Deddy Novrandianto in Sekolah dan Alumni
Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Marsudi W Kisworo kemarin menjadi pembicara dalam pembekalan mengajar menggunakan kecerdasan hati di aula At Taqwa Bojonegoro. Pembekalan tersebut diikuti 960 calon guru sekolah dasar.
Menurut Marsudi, kunci kesuksesan seorang guru adalah menguasai intelektual, emosional, dan spiritual. “Menjadi guru bukan hanya menyampaikan materi kepada siswa, tetapi juga harus menjadi motivator bagi siswa,” katanya.
Dia menjelaskan, tujuan pendidikan bukan hanya memahamkan materi kepada siswa. Namun, juga menggerakkan hati siswa agar mereka menjadi siswa yang mandiri.
Sementara itu, Sudarto, ketua penyelenggara kegiatan menyatakan, kegiatan tersebut bertujuan membangun kualitas dan karakter calon guru berdasarkan emosional, spiritual, intelektual dan fisik. “Atau yang kerap disebut sebagai kecerdasan holistik,” katanya.
Menurut dia, kualitas pendidikan ditentukan kualitas pendidiknya. Karena itu, guru tidak hanya dituntut menguasai dan memahami materi pelajaran di sekolah. Namun, kecerdasan emosi dan spiritual juga harus dikuasai oleh para pendidik. (nas)



gunsa
Feb 5th, 2009
Sampai hari ini Tujuan Pendidikan masih membingungkan kalangan dunia usaha yang membutuhkan lulusan yang produktif dan kreatif, berorientasi pada produktifitas (menghasilkan produk), berkualitas (produknya berkualitas) dan efisiensi (mampu menekan biaya produksi baik melalui kreatifiats maupun teknologi).
Difinisi kualitas pendidikan tidak mengikuti kualitas produk yang dihasilkan oleh lulusannya pedahal persaingan kualitas SDM diseluruh dunia adalah pada hasil produknya, bukan pada ijaazh dan angka kelulusannya UAN (passing grade). Pendidikan Dunia telah menghasilkan Pemimpin, profesional dan entrepreneur. Apa yang mau dihasilkan pendidikan Indonesia? Apa yang dihasilkan dari kecerdasan emosionil dan spirituil ini? Kemana mencari lulusan yang produktif dan kreatif standard industri?
nkhoironi
Nov 2nd, 2009
Peranan, fungsi dan tanggung jawab guru berkait dengan profesionalismenya sangat mengikat guru untuk ‘hanya’ memikirkan siswa dan kelasnya. Dari sekian konteks yang akhirnya terlepas dari perhatian guru adalah kualitas leadership di sekolah dan birokrasi pendidikan.
Dengan alpanya guru dalam hal leadership baik di sekolah atau birokrasi, fungsi dan peranan guru menurun hanya sebagai pelaksana di lapangan. Padahal, sumber ‘bencana’ dunia pendidikan kita sementara ini adalah lemahnya leadership di tingkat manajemen sekolah dan birokrasi pendidikan.
Meski demikian, kita ucapkan salut dengan perkembangan Bojonegoro di sisi kualitas seleksi kepala sekolah di lingkungan diknas. Mungkin ilmu ini bisa ditularkan ke lain departemen yang juga menangani masalah pendidikan. Jangan ada lagi jabatan kepala sekolah yang bisa dibeli. Malu, dong!