Apr
Keluh Kesah Penambang Minyak Tradisional
Terus diburu dan dianggap Ilegal tak membuta jera para penambang tradisonal. Bahkan penambangan tardisional kini mereka minta dilegalkan dengan cara apapun karena banyak nasib tergantung pada pekerjaan tersebut
Matahari tepat diatas kepala dan sinarnya terasa membakar kulit. Sementara suara mesin yang menderu kadang besar dan kadang kecil bersahut-sahutan menambah susana semakin tidak nyaman. Ditepi sebuah jalan menurun lalu lalang motor dengan membawa jeriken sepert tak pernah berhenti. Sementara puluhan orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil berada di tebing-tebing bukti asik dengan kseibukan masing-masing. Itulah sekilas gambaran sala satu tempat penambangan sumur minyak trsadisonal oleh rakyat di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan
“Dari mana Pak,” kata salah seorang dengan mata tajam dan penuh kecurigaan saat Radar Bojonegoro menghampiri salah satu kelompok. Menurut pria yang bertelanjang dada tersebut mereka tidak butuh wartawan yang hanya mengecap pekerjaan mereka ilegal. Jika demikian mereka meminta Radar Bojonegoro dan rombongan pergi saja.
Belum sempat menjawab tiba-tiba muncul seseorang yang lebih tua. Pria itu kemudikan tersenyum dan mempersilahkan wartawan memotret. “Oh yang dari Radar Bojonegoro dulu, gak papa ini dulu dia pernah kesini dan memberitakan kita bagus,” kata pria tersebut sambil dan meminta rekannya tersebut minggir.
Setelah dianggap cukup mengambil gambar wartawan kemudian menghampiri seorang laki-laki tang berdiri menunggu antrian dengan dua jeriken dipegangnya. Pria itu bernama Kundhori dan mengaku dari Kecamatan Padangan.
“Kita ini capek diuber-uber terus,” katanya. Menurutnya selain dikejar-kejar terus pangsa pasar minyak olahan terus menyusut. Padahal dia menyatakan meski bukan orang Kedewan namun dia menggantungkan hidupnya menjadi pengantar minyak olahan tersebut.
Tak hanya itu Kundhori kemudian meminta wartawan untuk melihta berapa banyak pekerja dan menggntungkan hidupnya. Ini menurutnya belum termasuk sumur-sumur lainnya. “Karena itu kami minta di legalkan bagaimanapun caranya,” ungkapnya
Sementara Parimin menjelaskan bahwa dia memiliki satu sumur diantara beberapa sumur diperbukitan tersebut menjelaskan ada sekitar 40 sumur dari sekitar dua ratus sumur yang baru ditemukan. “Sebenarnya ada ribuan tapi baru ketemu sekitar itu dan itu berdasarkan peta yang banyak orang sini punya,” imbuhnya.
Menurutnya upah yang diberikan Pertamina sangat minim sehingga warga memilih mengolah sendiri minyaknya. Dia juga mengakui bahwa minyak yang dihasilkan klurang sempuran. “dan itu kan tugas pemerintah agar kami bisa membuta minyak sempurna tentunya dnegan pembinaan,” tuturnya
Karena itu jika apa yang dilakukan warga dengan menambang dan menyuling minyak dianggap ilegal. Maka menurutnya akan banyak penganguran yang terjadi. “Karena itu bagaimanapun caranya pemerintah harus melegalkan kami serta membina kami,” ungkapnya.