17 September 2026

ASY-SYAHID AYATULLAH SAYYID ALI KHAMENEI : SANG PEJUANG UMMATAN WAHIDAH  

0
IMG-20260316-WA0082

Bojonegoro.com – Syahidnya Ayatullah ‘Udhma Sayyid Ali Khamenei menimbulkan efek psikologis yang khas. Kesedihan merasuk ke hampir seluruh relung hati ummat yang masih memiliki nurani kemanusiaan, tidak peduli apapun agama dan/atau mazhabnya. Kecuali mereka yang terafiliasi dalam jaringan Zionisme Internasional. Saya menggolongkan kelompok Wahabi-Salafi (HTI) termasuk dalam jaringan ini.

Sayyid Ali Khamenei memang mempertaruhkan masa khidmatnya berjuang untuk menjadikan kaum Muslimin sebagai “satu ummat”, Ummatan Wahidan (QS.al-Anbiya’:92). Ummatan wahidan (umat yang satu) adalah konsep Al-Qur’an yang menegaskan bahwa seluruh manusia asalnya adalah satu kesatuan, baik dalam akidah tauhid maupun kemanusiaan. Konsep ini menekankan persaudaraan, persatuan dalam beribadah kepada Allah, serta menjaga keharmonisan di atas perbedaan suku, bangsa, dan ras.

Poin Kunci Konsep Ummatan Wahidan: (1) Kesatuan Akidah dan Kemanusiaan: Manusia awalnya di atas tauhid (beriman kepada satu Tuhan) sebelum akhirnya berselisih; (2) Persaudaraan Universal: Seruan ini berlaku bagi seluruh manusia (bukan hanya Muslim) untuk hidup rukun, saling mengenal, dan tidak berbuat dzalim; dan (3) Keberagaman adalah Fitrah: Meski satu umat, Allah menciptakan manusia bersuku-suku untuk bergotong-royong, bukan terpecah belah;

Rasulullah Saw pernah mengimplementasikan semua poin ini dalam Piagam Madinah, menyatukan berbagai kabilah dan kelompok agama dalam satu ikatan sosial yang damai. Dengan demikian, konsep “ummatan wahidah” ini mengajak untuk fokus pada persamaan dalam kemanusiaan dan ketakwaan, serta menghindari kedengkian yang memecah belah.

Satu ummat tidak berarti satu mazhab, tetapi ummat yang berada dalam satu frekuensi, dimana bila satu kelompok dihina dan disakiti, maka kelompok lain ikut berempati, merasakan kehinaan dan rasa sakit yang sama. Itu sebabnya beliau membela dan memperjuangkan nasib bangsa Palestina dalam perspektif “satu ummah” bukan dalam motif teritorial dan—apalagi—sentimen kemazhaban.

Baca Juga :  Mendadak Dicopot, Usai Purbaya Bongkar Dugaan Mega-Kebocoran Pajak

Sentimen kemazhaban yang selalu diglorifikasi oleh kelompok Salafi-Wahabi (HTI) setiap kali terjadi eskalasi di Timur Tengah, memperlihatkan bahwa mereka tidak ingin berada dalam konsep “satu ummah” dengan kaum Muslimin lainnya. Kelompok “penjaga pintu surga” ini selalu merasa menjadi kelompok yang paling Islami, paling merasa benar, dan paling murni tauhidnya. Inilah celah yang selalu bisa dimanfaatkan oleh para musuh kemanusiaan seperti Amerika dan Zionis-Israel.

AS dan Zionis berhasil memanfaatkan sebuah celah kecil dalam batang tubuh ummat Islam, sehingga mereka selalu bisa memecah belah ummat Islam hingga berkeping-keping, dan nyaris bisa dipersatukan. Inilah yang dimaksud dari ucapan Ayatullah Ruhullah al-Musawi (Imam Khomeini qs.) beberapa puluh tahun yang lalu, “Barangsiapa memecah belah Syiah dan Ahlussunnah, segaja atau tidak sengaja, maka ia adalah agen Zionis.”

Perjuagan panjang Asy-Syahid Ayatullah ‘Udhma Sayyid Ali Khamenei dalam mempersatukan ummat Islam sudah mencapai puncaknya dengan pengorbananan dirinya menjadi seorang martir persatuan ummat. Pada tahun 2010 (1431 H) beliau telah mengeluarkan sebuah fatwa yang sangat monumental bagi persatuan antara Syiah dan Ahlussunnah, yang isinya sebagai berikut:

“Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlusunnah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri-istri para nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw.”

Rektor Universitas Al-Azhar Syekh Dr. Ahmad Tayyeb menyebut fatwa ini sebagai tamparan keras bagi para pengadu domba antara Syi’ah dan Ahlusunnah. Dalam sebuah pernyataan diberitakan di berbagai media massa Arab, Syekh Tayyeb mengakui bahwa Ayatullah Ali Khamenei sangat peduli pada persatuan Islam. “Fatwa ini,” ujar Syekh Tayyeb, “memancar dari pengetahuan yang benar dan kesadaran yang mendalam tentang bahaya para penyulut fitnah bagi Dunia Islam.”

Baca Juga :  Mendadak Dicopot, Usai Purbaya Bongkar Dugaan Mega-Kebocoran Pajak

Ketua Persatuan Ulama Islam Sedunia Dr. Syekh Yusuf Qardhawi juga menyambut gembira fatwa ini. Dalam pernyataanya beliau menyampaikan, “Saya perlu mengucapkan penghargaan dan terima kasih kepada Yang Mulia Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atas keluarnya fatwa beliau yang mengharamkan penistaan terhadap Aisyah dan para ummul mukminin lainnya yang pada hakikatnya merupakan simbol-simbol yang sangat dihormati oleh para penganut Ahlusunnah wal Jamaah. Saya juga berharap agar fatwa ini diindahkan dan orang yang melanggarnya harus ditindak.”

Sekarang, setelah beliau mereguk cawan syahadah, orang-orang baru menyadari betapa agungnya akhlak dan kepribadian beliau sebagai pejuang persatuan ummat. Dia mengorbankan segalanya demi tegaknya nilai-nilai Islam dan harga diri ummat Islam. Dia yang bermazhab Syiah, tidak pernah surut dan berhenti membela bangsa Palestina yang bermazhab Ahlussunnah. Semua kata-kata beliau equivalen dengan sikap beliau dalam mengimplementasikan ajaran Islam yang indah.

Dari apa yang telah dilakukan oleh asy-Syahid Ayatullah ‘Udhma Sayyid Ali Khamenei, kita dapat mengambil pelajaran bahwa ummat Islam seyogyanya kembali kepada fitrahnya yang universal, menjadi ummatan wahidah dan membangun persaudaraan atas dasar kebenaran dan keadilan semesta. Ummat Islam harus berhenti membangun narasi-narasi provokatif antara mazhab, khususnya Sunni-Syiah, karena hal ini bisa menjadi entry point bagi para kaum imperialis kuffar untuk masuk memecah belah batang tubuh ummat Islam. Wallahu a’lam bi shawab.

 

Penulis: Muhammad Hafi (Aktivis GAZA Surabaya)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X