Connect with us

Hi, what are you looking for?

IMG 20250620 WA0018
IMG 20250620 WA0018

Opini & Cerita

Israel dan Trauma PERANG KHAYBAR  

ISRAEL DAN TRAUMA PERANG KHAYBAR

 

Oleh: Muhammad Hafi

(Brains Community Bojonegoro)

 

Atas nama Haydar yang terhormat, Pertempuran Dimulai..!

Ali kembali ke Khaybar dengan pedangnya, Dzulfiqar. Allahu Akbar..!

(Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran)

 

Bojonegoro.com – Itulah ungkapan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, ketika hendak memulai serangan terhadap rezim Zionis-Israel (13/6) melalui sebuah operasi militer dengan sandi “True Promise-3”, yang berarti “Janji yang Ditepati.”

Di bulan Oktober 2024, beberapa hari setelah syahidnya pemimpin Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrullah –akibat serangan Israel di Beirut—Ali Khamenei menyampaikan pernyataan tajam, “Israel tidak akan bertahan lama!”

Ali Khamenei benar-benar “menepati janji” membalas setiap serangan Zionis lewat operasi True Promise 3. Operasi ini dilakukan dengan serangan rudal presisi yang menyasar lebih dari 150 target strategis, termasuk pangkalan militer, pusat intelijen Israel (Mossad), pusat komando Israel (IDF), pusat-pusat perekonomian, instalasi energi dan listrik, bahkan rumah perdana menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Seruan dalam operasi ini adalah “Ya Ali ibn Abi Thalib”. Seruan ini memiliki makna spiritual yang dalam, memiliki makna religius dan historis dalam Islam. Ali dikenal sebagai simbol keberanian, keadilan, dan kepemimpinan dalam Islam. Dengan menggunakan namanya sebagai kode operasi, Iran ingin menegaskan bahwa serangan ini bukan sekadar aksi militer, tetapi juga bagian dari perjuangan ideologis dan religius yang lebih besar. Haydar adalah salah satu nama (julukan, yang berarti singa) dari Ali bin Abi Thalib.

Pada pernyataan itu, Ali Khamenei juga menyentil sebuah peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah saw, yakni Perang Khaybar. Mengapa? Apa relevansinya dengan peperangan melawan Israel saat ini?

Hancurnya Kaum Yahudi di Tangan Ali bin Abi Thalib

Perang Khaybar merupakan salah satu perang terberat yang dihadapi Rasulullah saw bersama kaum Muslimin. Sebab, dalam perang ini kaum Muslimin harus berhadapan dengan pasukan kaum Yahudi yang terlindungi oleh benteng-benteng yang sangat kokoh dan belum pernah ada satu pasukan pun yang berhasil membobolnya. Pasukan kaum Muslimin membutuhkan waktu setidaknya dua puluh hari untuk mengepung dan membuka benteng-benteng Yahudi tersebut.

Pada awalnya, Nabi mengirim Abu Bakar dengan memberinya panji perang untuk menaklukkan benteng-benteng itu. Namun Abu Bakar kembali dengan tangan hampa. Ia tidak berhasil melakukan apa-apa. Keesokan harinya, Nabi mengutus Umar bin Khaththab untuk melakukan tugas yang sama yang telah dilakukan oleh Abu Bakar. Tampaknya nasib Umar bin Khaththab tidak berbeda dengan Abu Bakar. Ia tidak berhasil melakukan apa-apa. Ia kembali dengan tangan kosong, gagal. Nabi mengutus yang lainnya lagi, namun semuanya mundur teratur alias gagal.

Akhirnya, Nabi mengumumkan dengan ucapannya yang terkenal dan mengandung makna yang sangat dalam pada perang kali ini. Dengan suara lantang yang didengar oleh seluruh kaum Muslim yang hadir dalam perang Khaibar, Nabi saw berkata:

“Besok, aku akan memberikan panji perang kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Ia seorang pejuang yang gigih lagi pantang mundur. Allah akan memenangkan pertempuran ini dengannya. Malaikat Jibril akan berada di samping kanannya dan Mikail berada di sisi kirinya.”

Keesokan harinya ketika matahari terbit, Nabi berdiri dan mengumpulkan para sahabat untuk berbaris dengan mengisyaratkan panji perangnya. Nabi kemudian memanggil Ali. Dijawab oleh sebagian sahabat, “Wahai Rasulullah! Matanya sakit.” Nabi meminta kepada mereka untuk membawa Ali ke hadapannya. Salamah bin Akwa meninggalkan barisan menuju Ali dan kembali sambil menuntun tangan Ali bersama-sama menemui Nabi, sementara Ali menutup kedua matanya. Nabi meletakkan kepala Ali di pangkuannya. Kemudian Nabi membasahi kedua tangannya dengan air ludahnya yang kemudian diusap ke mata Ali. Seketika itu pula mata Ali sembuh dari sakitnya, seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Setelah menyembuhkan sakit mata Ali, Nabi mengangkat tangannya dan berdoa untuk Ali, “Ya Allah! Lindungi Ali dari hawa dingin dan panas.”

Nabi memakaikan baju perangnya kepada Ali dan menyisipkan pedang “Dzulfiqar” di tengah-tengah baju perangnya. Setelah itu, Nabi memberikannya panji perang dan memerintahkannya untuk segera pergi menuju benteng. Nabi saw berkata, “Perintahkan pasukanmu hingga sampai di depan benteng. Sesampainya di sana, ajaklah penghuni benteng untuk memeluk Islam terlebih dahulu. Beritahu apa yang menjadi kewajiban mereka di hadapan Allah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, bila ada seorang saja yang mendapat hidayah dengan ucapanmu, atau ada seorang yang diberi hidayah oleh Allah Swt lewat petunjukmu, itu lebih baik dari sejumlah besar binatang ternak.”

Salamah berkata, “Ali dengan cepat bergerak, sementara kami mengikutinya dari belakang hingga tiba di depan benteng. Ali menancapkan panji perang di atas batu di bawah benteng. Orang-orang Yahudi yang berada di atas benteng segera mengetahui akan kehadiran pasukan Muslim. Mereka bertanya kepada Ali: “Siapakah kau?”

“Aku Ali bin Abi Thalib,” jawab Ali.

Seorang Yahudi berkata kepada teman-temannya, “Kalian akan menang sebagaimana kemenangan yang diberikan kepada Musa.”

Penghuni benteng keluar. Orang pertama yang keluar bernama Harits bin Abu Zainab saudara Marhab bin Abu Zainab, keduanya ksatria Yahudi yang sangat tangguh dan kuat. Harits terkenal akan keberaniannya. Kaum Muslim agak mundur ke belakang. Ali melompat menyambut Harits. Keduanya mulai bertempur yang pada akhirnya dimenangkan oleh Ali. Ali berhasil membunuh Harits. Orang-orang Yahudi berebut masuk kembali ke dalam benteng dalam ketakutan.

Setelah itu, keluarlah Marhab dengan memakai pakaian perang berlapis dua, dua buah pedang di tangannya dan memakai dua lapis topi serta bersamanya sebatang anak panah bermata trisula. Keduanya memulai duel. Mereka telah melakukan dua kali pukulan ke arah lawan masing-masing. Ali kemudian menghantamnya dengan pedang. Kain selempang Marhab yang diikat di pahanya diganti dan diikat di kepala. Ali berhasil mengoyak-ngoyak pakaian perang Marhab. Pukulan Ali berhasil membelah kepala Marhab menjadi dua hingga giginya.

Ketika orang-orang Yahudi menyaksikan apa yang menimpa jawara penunggang kuda terhebat mereka, Marhab tumbang tak bernyawa lagi, serentak mereka berlarian masuk kembali ke dalam benteng mereka dengan ketakutan yang besar kemudian menutup pintu benteng.

Ali bersegera mendekati pintu benteng dan berusaha untuk membukanya. Pasukannya yang berada di sisi parit yang melingkari benteng tidak berani lewat bersama Ali. Ali berhasil melepaskan pintu gerbang benteng dan meletakkan di atas parit agar mereka berani menyeberanginya. Setelah menyeberangi dan masuk benteng, kaum Muslim berhasil menaklukkan benteng terkuat Yahudi Khaybar dan berhasil mendapat harta pampasan perang yang banyak.

Diriwayatkan bahwa sejumlah orang berusaha untuk menggerakkan pintu, tetapi tidak mampu.

Ibnu Amr berkata, “Kami sangat terheran-heran, bagaimana Allah membuka benteng Khaybar melalui tangan Ali. Namun kami lebih heran lagi bagaimana ia dapat membobol pintu benteng dari tempatnya dan melemparkannya ke belakang sejauh empat puluh dzira’ (1 dzira = 18 inci,1 inci = 2,5 cm, 40 dzira = 2,5 x 18 x 40 = 1800 cm = 18 meter). Sekitar empat puluh orang berusaha susah-payah untuk mengangkatnya namun mereka tidak mampu.

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib dalam salah satu suratnya kepada Sahl bin Hanif berkata, “Demi Allah! Aku tidak membobol pintu Khaybar dan melemparkannya ke belakang sejauh empat puluh dzira’ dengan kekuatan fisik dan tidak karena makanan yang aku makan, melainkan aku dibantu oleh kekuatan Ilahi dan jiwa yang diberi cahaya oleh Pemiliknya yang terang-benderang. Aku dari Ahmad (Muhammad) bak cahaya dari cahaya.” (Teladan Abadi Ali bin Abi Thalib, 2008)

Trauma Bani Israel

Kekalahan di Khaybar memberikan luka yang begitu dalam terhadap kaum Yahudi. Sebab selain mereka kehilangan anggota keluarga, harta benda, dan benteng-benteng kokohnya, mereka juga harus kehilangan harga diri dan kebebasannya, yaitu menjadi budak-budak taklukan perang kaum Muslimin.

Luka sejarah tersebut hingga hari ini terus membekas di benak-benak bangsa Yahudi (Bani Israel). Beberapa ‘kata kunci’ seperti ‘Khaybar’, ‘Ali’ dan ‘Dzulfiqar’ masih berdampak traumatis dan menggetarkan psikologis mereka. Rasa malu, dendam, dan takut bercampur aduk menjadi satu, membentuk perspektif, sikap dan prilaku politik mereka—yang didominasi ambisi, paranoid, dan frustasi.

Tidak hanya itu, para pejuang Palestina pun selalu meneriakkan yel-yel “Khaybar-khaybar ya Yahud, jaisyu Muhammad sawfa ya’ud” (Ingatlah pada peristiwa Khaybar, wahai kaum Yahudi, tentara Muhammad akan segera kembali) untuk meruntuhkan mental kaum Zionis-Israel.

Secara hipotetis ingin saya katakan bahwa inilah salah satu ‘benang merah’ mengapa kaum Zionis-Israel sangat membenci Iran, yang notabene sebuah negara yang secara mayoritas penduduknya beragama Islam dan memeluk mazhab Syiah Imamiyah.

Dengan mengungkit kembali ‘preseden’ Khaybar, Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei secara tegas mengingatkan dan sekaligus mengultimatum Zionis-Israel dan para sekutunya –dalam peperangan ini—bahwa Iran akan membuat nasib Israel hari ini sebagaimana nasib mereka 1.400 tahun lalu di Khaybar. [*]

Bagikan :
6 Comments

6 Comments

  1. Mizanuddin

    22 Juni 2025 at 9:39 pm

    Good Iran…yg berani..seperti Ali bin Abi Thalib

    • Ludvi Agus

      23 Juni 2025 at 2:24 pm

      👍👍

  2. Singa Yehuda

    24 Juni 2025 at 10:22 am

    Kaum teroris dan perampok harta bangsa lain atas nama Allah nya

    • Ludvi Agus

      24 Juni 2025 at 5:10 pm

      👍👍

  3. Masujik

    27 Juni 2025 at 4:58 pm

    yang tidak dekat dengan Allah tidak akan diberi kekuatan seperti kekuatan Imam Ali melempar pintu Khaibar

    • Ludvi Agus

      27 Juni 2025 at 6:52 pm

      😃👍👍

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya

Kabar

Bojonegoro.com – Perancangan busana kebanggaan Bojonegoro, Sri Artiningsih, S.Pd, atau lebih dikenal dengan bunda Arva diundang Mitra Desa Nusantara (MDN) sebagai narasumber dalam seminar nasional...

UKM/UMKM

Bojonegoro.com – Menjadi ibu rumah tangga tidak menghalangi Laily untuk tetap produktif dan mengembangkan usaha. Dari rumah di wilayah Ledok, Bojonegoro, Laily memanfaatkan peluang...

UKM/UMKM

Bojonegoro.com – Olahan keripik pisang cavendish menjadi salah satu produk UMKM yang terus berkembang di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Dengan cita rasa khas dan...

Digital

Bojonegoro.com – Aktivitas belanja kebutuhan dapur kini semakin praktis. Jika dulu masyarakat harus datang langsung ke pasar tradisional untuk membeli cabai, bawang, ikan, maupun...

X