Bojonegoro.com – Gelaran Festival Samin ke 10, mengangkat tema “Sabare DiEling-eling Trokale dilakoni” menjadi pengingat untuk lebih semangat dalam kesabaran dan menjalankan tugas dengan baik, salah satu rangkaian acara adalah Gumbregan, Gumbregan adalah kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun di bulan suro (Muharram).
Gumbregan dilaksanakan di perempatan Dusun Jepang Desa Margomulyo Kecamatan Margomulyo kabupaten Bojonegoro, Jum’at Pagi (19/06/2026). Bambang Sutrisno selaku penerus ajaran Samin dan juga dituakan dalam masyarakat Samin memimpin acara Gumbregan.
Adat Gumbregan masyarakat Samin dilaksanakan di hari Jum’at Pahing bulan Suro / Muharam yang telah menjadi kebiasaan turun menurun sebagai ajaran dari leluhur.
Malam harinya acara dilanjutkan dengan umbul Donga, ritual warga berdoa bersama untuk kesejahteraan dan ketentraman desa, yang dilaksanakan di kediaman almarhum Mbah Harjo Kardi, sesepuh Samin yang juga ayah dari Mas Bambang Sutrisno. Setelahnya digelar pertunjukan wayang Thengul di Balai Budaya Samin dusun Jepang.
Hadir dalam kegiatan Kepala Dusun Jepang, Tokoh masyarakat, Tokoh pemerhati Samin, Mahasiswa ISI Jogja, dan seluruh warga Dusun Jepang.
Dalam kesempatan itu, Bambang Sutrisno generasi ke lima Samin Surosentiko menyampaikan, Kegiatan Gumbregan dilaksanakan setiap tahun dan telah menjadi agenda rutin warga Samin, ini adalah wujud Syukur kepada Allah SWT atas rejeki yang diterima warga atas berkah ternak yang dimiliki oleh masyarakat Samin, seperti Sapi, kerbau, kambing dan lain sebagainya.
Lebih lanjut Bambang menjelaskan, Adat budaya gumbregan bertujuan untuk menjaga kelestarian adat dan budaya warga Samin, Gumbregan merupakan kearifan lokal (local wisdom) yang harus tetap dijaga keberlangsungan dan eksistensinya.
“Gumbregan bukan hanya warisan leluhur namun juga sebagai bahasa komunikasi rasa syukur warga kepada Tuhan yang Maha Esa” jelasnya
Kami sebagai penerus hanya menjalankan titah leluhur karena ini menjadi bagian masa lalu yang mengajarkan nilai-nilai luhur dan kearifan, sebagai generasi penerus hanya berkewajiban memelihara semangat dan ajaran para leluhur, Pungkasnya.










































