Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kabar

Mengenal Lebih Dekat Sudalhar, Sosok Inspiratif Ketua STIKES Maboro Berjiwa Entrepreneur

IMG 20200717 062554

Bojonegoro, Ns Sudalhar, M.Kes ketua Sekolah Tinggi Kesehatan Muhamadiyah Bojonegoro (Stikes Maboro) adalah Pribadi yang menyenangkan, rendah hati namun sangat inspiratif.
Dipercaya menjadi ketua STIKES dari tahun 2015 hingga sekarang tentu sebuah prestasi yang sangat membanggakan.

Sudalhar adalah sosok sentral dibalik berdirinya STIKES maboro, Proses awal pembangunan sekolah tinggi kesehatan dibawah yayasan Muhammadiyah ini, hingga berdiri dan menjadi besar seperti sekarang,tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Sudalhar.
Capaian yang tentu sangat besar dan tidak bisa dianggap remeh.

Semua pencapain yang diraih Sudalhar tentulah tidak mudah, Banyak romantika dibalik kesuksesannya.
Laki-laki kelahiran 17 Juli 1977 ini dalam perjalanan hidupnya meraih kesuksesan, penuh cerita inspiratif yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.

Tumbuh berkembang di Desa Pelem, kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, sebuah desa kecil, di barat kota.
Dalhar anak seorang petani tembakau yang kehidupannya jauh dari kata mapan.
Mewajibkan dirinya membantu beban ke dua orang tuanya dengan ikut bertani tembakau.

Anak ke 2 dari 5 bersaudara pasangan Bapak Munadji dan Ibu Sutiyem, dari kecil akrab dan terbiasa dengan semua aktifitas proses bertani tembakau, mulai mempersiapkan lahan, menanam, menyiram tembakau hingga panen.
Mencari rumput, angon sapi (gembala sapi) adalah pekerjaan sehari hari.
Bahkan sejak di bangku SD kelas 4, Sudalhar sudah berjualan es lilin disekolahannya dan berkeliling kampung menjajakan dagangannya.

Meski orang tuanya hanya seorang petani di desa, namun cara berpikir orang tua Sudalhar sangat maju dan progresif.
Itu dibuktikan dengan cara mendidik anak anaknya yang keras dan disiplin.
Kultur di desanya yang agamis menjadikan anak-anak di desanya kebanyakan setelah lulus Sekolah dasar, melanjutkan di pondok pesantren untuk menjadi santri.

Baca Juga :  Warga Tikusan Terima Sembako dari Politisi Gerindra

Tapi tidak dengan orang tua Sudalhar, Dalhar kecil, yang dari Sekolah dasar memiliki prestasi akademik yang menonjol, dengan selalu menduduki peringkat 1 di sekolahannya, membuat orang tuanya bertekad untuk melanjutkan sekolah anak anaknya ke tingkat yang lebih tinggi.

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Purwosari dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) Negeri 1 Bojonegoro ditempuh Sudalhar, banyak cerita yang penuh liku liku, mengharu biru, sedih, bahagia,dan bangga saat anak desa mesti menjalani kehidupan di kota.

Saat bersekolah di SMA N 1 Bojonegoro, jauh dari rumah dan orang tua, Sudalhar sehari-harinya numpang di rumah orang, tepatnya di kelurahan Klangon, Bojonegoro, “ngenger” dalam istilah jawa.

Ngenger di rumah orang yang bukan saudara, kenal sebelumnyapun tidak, Memaksa Dalhar harus mampu beradaptasi dengan keluarga dan lingkungannya yang baru baginya.
Ikut di keluarga Pak Bandel tentara aktif (TNI), memupuk karakter jiwa dan kedisiplinan Sudalhar semakin kuat dan mumpuni.

IMG 20200717 063919

Rumah dijalan setabudi, dimana dulu Sudalhar ikut pak Bandel

Selepas SMA, Dalhar, begitu panggilan akrabnya mengadu nasib ke kota, tepatnya Surabaya, bekerja di sebuah pabrik dengan upah yang sangat minim, hanya bisa buat makan dan bayar kost.
Kondisi yang tidak menentu sebagai pekerja pabrik, membuat jiwa entrepreneur Sudalhar bergejolak memberontak, setahun setelahnya keluar dari buruh pabrik dan memutuskan pulang ke kampung.
Untuk memperbaiki nasib, Saya harus melanjutkan studi ke perguruan tinggi, tekadnya dalam hati.

Tahun 1995 – 1998 Sudalhar tercatat sebagai mahasiswa akademi perawat Rajekwesi Bojonegoro, dan menjadi perawat adalah profesi barunya.
10 tahun bekerja sebagai perawat di puskesmas Kecamatan Purwosari pernah dilaluinya,
Tidak berhenti disitu, tahun 2001-2003 Sudalhar memutuskan untuk kuliah lagi, di IKIP PGRI Bojonegoro mengambil keguruan (akta 4)

Baca Juga :  Rumah Peninggalan Orang Tua Ambruk, Tetangga Gotong Royong Membangun Kembali.

Belum puas meniti jenjang akademiknya Bapak 2 anak ini meneruskan Sekolah perawatnya di universitas airlangga Surabaya (Unair) Stata 1 keperawatan (2003-2006) dan Strata 2 Kesehatan (2009-2011) di tempuhnya di universitas ternama Surabaya ini.

Tahun 2000 tercatat sebagai dosen Akademi Perawat Rajekwesi Bojonegoro, dan ditahun itu pula Sudalhar melepas masa lajangnya dengan menikahi Lusi Dyah teman masa kuliahnya di Akper Rajekwesi, dari pernikahannya itu dikaruniai 2 anak, Fadholah Ahmad yang sekarang tercatat sebagai Santri MBS Alamin kelas 3 SMA dan Aisya Jinan M
Santriwati MBS Al Amin kelas 1 SMP.

IMG 20200717 WA0003

Sudalhar bersama anak istrinya.

Kariernya terus meningkat tahun 2007-2010 dipercaya menjadi direktur Akper Rajekwesi Bojonegoro, akademi dimana Sudalhar dulu kuliah.

Tahun 2012-2015 Dipercaya sebagai kepala Satuan pemeriksaan internal auditor internal rumah sakit Aisiyah Bojonegoro, dan 2015 hingga Saat ini menjabat sebagai ketua STIKES maboro sekaligus menjadi ketua komunitas konsultan bisnis dan kesehatan.

Keberhasilan dan kesuksesannya tidak didapat dengan mudah, semua melewati proses kehidupan.
Pesan Sudalhar bagi anak mileneal, “hidup ini bukan telenovela, bukan cerita drama Korea, jangan pernah bermimpi tanpa melakukan apa-apa, berpikir positif dan buat kerangka berpikir yang besar, teruslah berjuang, jangan pernah berhenti berproses dalam kehidupan nyata, maka sukses akan dapat kalian raih.

Hidup akan lebih bermakna jika diri kita berguna bagi sesama,dan hidup akan lebih berati, saat ilmu menjadi nahkoda mencapai kesadaran ilahi,

Obsesi adalah perangsang untuk kita berbuat lebih keras untuk meraihnya.
Obsesi Sudalhar saat ini hanya ingin melihat orang orang terdekat dan tercintanya selalu sehat, bahagia dalam lindungannya dan mewujudkan STIKES maboro menjadi perguruan tinggi yang mempunyai daya saing tinggi dan ternama di Jawa timur.

Baca Juga :  Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Turun ke Lapangan, pastikan Hewan Kurban Sehat.

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi semua.

Bagikan :
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Baca Artikel Lainnya

Seni dan Budaya

Bojonegoro – Wayang kulit adalah kesenian asli Indonesia, tepatnya kesenian dari Jawa, Seorang dalang memainkan lakon dengan penokohan wayang, Sesuai namanya wayang kulit, pembuatan...

Seni dan Budaya

Bojonegoro-Sonip, (48thn) Seniman seni kriya asal Purwosari,kecamatan Purwosari,kabupaten Bojonegoro,selain di kenal sebagai seniman kriya, juga di kenal masyarakat Purwosari dan sekitarnya sebagai aktifis sosial...

Kabar

Bojonegoro – Di Masa Adaptasi kebiasaan baru era Pandemi covid-19, Masjid Agung Darussalam Bojonegoro menyelenggarakan sholat idul adha dengan tetap memberlakukan protokol Covid-19. Hari...

Kabar

Bojonegoro– Waktu penyembelihan hewan kurban adalah 4 hari, 10 Dzulhijah, hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu penyembelihan berakhir dengan tenggelamnya matahari di...

Opini & Cerita

Bekerja dengan hati mengingatkan akan arti pentingnya sebuah komitmen dan tanggung jawab dalam tugas yang diemban seseorang agar bisa bekerja secara maksimal dengan mengoptimalkan...

Seni dan Budaya

Bojonegoro -Indonesia kaya akan ragam seni, mulai dari seni rupa murni, seni rupa terapan hingga seni rupa kriya. Seni kriya merupakan jenis karya seni...

Kabar

Bojonegoro – Selasa,03/09/20, 17 Agustus diperingati sebagai hari Kemerdekan Republik Indonesia, tahun ini Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-75. Semua ruas jalan, baik jalan kota...

Kabar

Bojonegoro – Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1441 Hijriah yang bertepatan pada tanggal 31 Juli 2020 ini masih di tengah pandemi Corona Virus...