Bojonegoro.com – Tahu Ledok , begitu masyarakat Bojonegoro menamai bahan makanan yang terbuat dari kedelai ini, Tahu Ledok menjadi salah satu ikon kuliner Bojonegoro yang cukup dikenal di masyarakat luas.
Berada di kelurahan Ledok Kulon Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kawasan ini dikenal sebagai sentra tahu, dimana sebagian besar warganya pekerjaan kesehariannya berkutat dengan hal yang berkaitan dengan tahu. Baik sebagai produsen, pedagang bekerja di pabrik tahu ataupun yang menyediakan kebutuhan pembuatan tahu.
Turunan dari bahan pembuat tahu yang kita kenal sebagai ampas tahu oleh warga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jika kita berjalan menyusuri kampung Ledok kulon akan kita dapati banyak kandang penggemukan sapi atau kambing di sekitar pabrik.
Klaster industri tahu di Ledok Kulon ini merupakan kategori industri kecil menengah (IKM) rumah tangga.
“Tercatat ada sekira 159 pabrik tahu dan 300 lebih pedagang tahu,” ungkap Ketua Paguyuban Pedagang Tahu Ledok Kulon, Pranyoto.
Menurut Pranyoto profesi warga Ledok kulon sebagai produsen tahu sejak tahun 1950. Pabrik tahu ini dulu milik leluhur keluarga, Bahkan ia sendiri mengaku termasuk generasi keempat sebagai produsen tahu Ledok Kulon di pabrik milik keluarganya.
Untuk operasional pembuatan tahu pranyoto dibantu 8 orang sebagai pekerja, produksi tahu di pabriknya dalam sehari membutuhkan hingga 2 kuintal kedelai impor.
8 pekerja itu memiliki tugas masing-masing, ada yang bagian merendam kedelai, ada yang mengolah tahu, dan ada yang bertugas melakukan penggorengan,
“Untuk perendaman kedelai membutuhkan waktu 4 jam supaya maksimal,” terang Pranyoto sambil menunjukkan bak bak yang berisi rendaman keledai.
Pemasaran hasil produksi tahu para produsen tidak mengalami banyak kendala karena sudah memiliki pasar sendiri yang rata rata adalah pedagang tahu di pasar pasar yang tersebar di Bojonegoro dan sekitarnya. Tahu kotak dan tahu bulat misalnya, setiap pagi hari sudah siap dipasarkan di wilayah Pasar Rengel Tuban, dan Pasar Blora Jawa Tengah.
“Untuk harga tahu kotak dan bulat paling rata-rata dihargai Rp 2.000 hingga Rp 6.000 per 10 isinya,” jelasnya.
Produsen tahu Ledok terhitung kuat dan mampu mempertahankan eksistensinya selama puluhan tahun. Namun Pandemi Covid -19 yang lalu tidak terkecuali pabrik tahu di ledok ini mengalami kemerosatan produksi dan terancam kerugian yang besar. Pasalnya saat pandemi stok bahan baku melimpah namun terkendala pemasaran. Belum lagi saat pandemi minyak goreng menjadi barang yang cukup sulit didapatkan, dan yang paling berat adalah saat itu harga kedelai impor naik hampir 300 persen.
“Pandemi benar-benar menjadi masalah kami produsen tahu. Untuk menutupi biaya produksi yang besar, kami terpaksa mengurangi ukuran tahu,” ujar Pranyoto.
4 tahun semenjak pandemi berlalu, yang awalnya para produsen tahu mengalami naik turun usaha, seperti dapat angin segar saat BRI menawarkan program untuk bergabung sebagai mitra Bank milik pemerintah ini.
Ia bersama beberapa produsen lainnya merasakan bantuan berupa kredit usaha ringan atau KUR dari salah satu mantri atau tenaga pemasar mikro BRI Bojonegoro. Hingga merasakan dampak dari digitalisasi modern, berupa transaksi melalui mobile banking atau dikenal BRImo.
“Manfaat yang diperoleh usai gabung dengan KUR cukup banyak, mulai penambahan modal usaha untuk produksi. Terkait proses pencairan lumayan cepat juga lewat BRImo, jadi tidak perlu antri lama di tempat,” jelasnya.
Pranyoto berharap, tahu Ledok ini mampu berkembang sebagai usaha yang bisa menaikkan hajat hidup banyak orang dengan memberi dampak yang baik bagi ekonomi dan sosial warga.
” Semoga kami bisa selalu membantu pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran, melalui usaha kamu ini,” pungkasnya.










































