Bojonegoro.com – Taman Inklusi adalah wahana dimana teman tuli dan teman dengar dengan segala kemampuan pendengaran sempurnanya mencoba memahami bahasa isyarat dan juga sekaligus menjadi tempat berkreativitas.
Taman Inklusi Berada di halaman sebuah kedai bernama Actore Mediart, diinisiasi Takim Kok Gito-Gito seorang seniman pantomim yang peduli dengan komunitas teman tuli di Bojonegoro. Memang bukan taman kota yang luas, namun halaman kedai tersebut menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi cerita dan kreativitas bagi teman tuli
Awak media mencoba menelusuri keberadaan taman Inklusi, sore itu, hujan turun membasahi tanah yang seharian kering. Di Taman Inklusi yang berada di Desa Kauman, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, bangku mulai basah. Sekelompok anak dan remaja yang tengah bercengkerama harus bergegas meneduh mencari atap di kedai tak jauh dari situ. Minggu (05/10/25)
Ya, kedai itu sederhana, atapnya bahkan bocor di satu sisi, membuat air hujan menetes deras ke lantai semen. Namun suasana di dalam tetap hangat, bukan karena ruangannya melainkan karena cerita yang mereka bawa.
Teman dengar dengan segala kemampuan pendengaran sempurnanya mencoba memahami bahasa isyarat. Sementara teman tuli, yang disebut difabel karena memiliki kemampuan berbeda, belajar mengekspresikan diri dengan bahasanya. Ada kalanya salah paham muncul, tapi justru itulah yang memecah tawa. Mereka menyebutnya “bahasa salah paham,” bahasa yang mendekatkan, bukan menjauhkan.
Gita, salah satu teman tuli yang kini menjadi mentor bagi teman dengar, mengakui awalnya tidak percaya diri, bahkan canggung untuk memulai interaksi. Namun perlahan, ia berusaha mengakrabkan diri dengan anak-anak meski keterbatasan komunikasi kadang membuatnya berhenti sejenak.
“Dengan adanya forum ini, saya merasa punya jembatan untuk belajar bersosialisasi di tengah masyarakat. Sekarang saya percaya tidak ada kata terlambat untuk belajar,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tempat berkumpul, Taman Inklusi ini bisa menjadi model pembelajaran inklusi. Ada ruang belajar, ruang apresiasi, ruang ekonomi, ruang pengembangan, dan yang paling penting adalah ruang untuk berbagi perasaan. Di sini mereka berproses nyata menyuarakan kesetaraan bahwa teman tuli bisa menjadi subjek sebuah gagasan, asalkan masyarakat memberi kesempatan sekaligus ruang tanpa adanya perbedaan.
Suasana sederhana di kedai kecil itu, ditemani derasnya hujan yang menetes lewat atap bocor, menjadi saksi bagaimana inklusi sejati bekerja. Tidak dengan konsep yang rumit, tapi dengan kebersamaan, tawa, dan keberanian untuk saling memahami.
keberadaan Taman Inklusi Kauman ini bisa terus hidup, tumbuh, dan mendapat perhatian lebih luas. Tidak harus dalam bentuk besar, cukup ada fasilitasi sederhana yang membuat ruang ini semakin nyaman untuk siapa saja yang ingin belajar bersama.










































