Connect with us

Hi, what are you looking for?

Bojonegoro.com
Tradisi Minum Tuak di Kota Tuban

Kabar

Tradisi Minum Tuak di Kota Tuban

Tuban. Minum tuak di Kota Tuban Jawa timur sudah menjadi Kebiasaan sebagian warga, tradisi turun menurun dari jaman nenek moyang masih ada sampai sekarang. Sembrek, begitu Warga biasa menyebut, Sembrek adalah istilah orang yang berkumpul dipinggir jalan sambil minum tuak.

Warga minum tuak dengan berkumpul bersama teman sambil bercengkrama dan guyon waton.
Suasana ditengah sambrek sangat hangat dan penuh kekeluargaan.

Kebiasaan minum tuak ini sudah menjadi tradisi turun menurun yang biasa dilakukan di pinggir jalan poros desa.
Beberapa warga yang asyik minum tuak menyambut dan menyapa setiap yang baru datang bergabung, sambil tersenyum hangat, mari mas, mari, duduk sini.
Kami minum tuak untuk berkumpul dengan teman mas, melepas penat setelah seharian bekerja, tidak ada niat mabuk, kami minum secukupnya, maka hampir tidak pernah ada keributan karena minum tuak disini, jelas mereka.

Tuban adalah kota agraris maritim, yang wilayahnya memiliki laut dan lahan pertanian.
Baik warga pesisir maupun warga pegunungan sebagian besar warganya sama-sama memiliki kebiasaan minum tuak untuk melepas penat selepas bekerja di lahan sebagai petani atau selepas melaut.

Banyak sebutan untuk kota Tuban, diantaranya dari sisi sejarah, Tuban dikenal sebagai kota Ronggolawe, dari sisi tradisi, dikenal sebagai kota tuak.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat muslim Tuban lebih suka menyebut sebagai kota bumi wali, karena banyaknya makam wali besar yang tersebar di kota Tuban.

IMG 20200625 160308

Pemerintah Tuban pernah mengatur dan menertibkan budaya warganya yang suka minum tuak di pinggir jalan agar tidak terlalu vulgar didepan umum.
Namun tradisi minum tuak di Tuban tetap ada dan menghiasi pemandangan sudut desa.
Seperti yang ada di Dusun Krajan desa Mondokan.

Baca Juga :  Aksi Kurangi Emisi Karbon, Pemkab Bojonegoro Gelar Penganugerahan Adibuana Carbon Awards 2023

Tuban memang kota yang kental akan warna sejarah dan tradisinya.
Sebagai kota bumi wali, nuansa spiritualnya tergolong kental, sejarah membentuk karakter warga, meski tidak seramai dulu, tradisi minum tuak masih ada hingga sekarang, dan entah kapan tradisi ini akan hilang karena tergerus moderenitas dan hingar bingar jaman, atau justru tradisi ini mampu menyesuaikan jaman.

Bagikan :
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya

Wisata

Bojonegoro.com – Keinginan besar untuk mengenal Indonesia lebih dekat menguatkan tekad Syaiful A Rachman (SAR) melakukan perjalanan keliling Nusantara. Dengan menggunakan si Oyen, kendaraan...

Politik dan Pemerintahan

Bojonegoro.com – Lima tahun dalam  pengabdiannya, Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah mempersembahkan sebuah buku berjudul “Membangun Sejak dalam Pikiran”, Pembangunan dari Titik Paling Pinggir Menuju...

Hukum

Bojonegoro.com – SURABAYA – Pelaksanaan Otonomi Desa setelah lahirnya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa ternyata tidak sepenuhnya menguntungkan Desa. Di undang-undang tersebut...

Politik dan Pemerintahan

Bojonegoro.com – Sebuah buku inspiratif, berjudul ‘Membangun Sejak Dalam Pikiran’ karya Anna Mu’awanah dibedah di Pendopo Malowopati Sabtu (23/9/2023). Acara ini sekaligus menjadi perpisahan...

X