Connect with us

Hi, what are you looking for?

Bojonegoro.com

Kabar

Tradisi Minum Tuak di Kota Tuban

Tuban. Minum tuak di Kota Tuban Jawa timur sudah menjadi Kebiasaan sebagian warga, tradisi turun menurun dari jaman nenek moyang masih ada sampai sekarang. Sembrek, begitu Warga biasa menyebut, Sembrek adalah istilah orang yang berkumpul dipinggir jalan sambil minum tuak.

Warga minum tuak dengan berkumpul bersama teman sambil bercengkrama dan guyon waton.
Suasana ditengah sambrek sangat hangat dan penuh kekeluargaan.

Kebiasaan minum tuak ini sudah menjadi tradisi turun menurun yang biasa dilakukan di pinggir jalan poros desa.
Beberapa warga yang asyik minum tuak menyambut dan menyapa setiap yang baru datang bergabung, sambil tersenyum hangat, mari mas, mari, duduk sini.
Kami minum tuak untuk berkumpul dengan teman mas, melepas penat setelah seharian bekerja, tidak ada niat mabuk, kami minum secukupnya, maka hampir tidak pernah ada keributan karena minum tuak disini, jelas mereka.

Tuban adalah kota agraris maritim, yang wilayahnya memiliki laut dan lahan pertanian.
Baik warga pesisir maupun warga pegunungan sebagian besar warganya sama-sama memiliki kebiasaan minum tuak untuk melepas penat selepas bekerja di lahan sebagai petani atau selepas melaut.

Banyak sebutan untuk kota Tuban, diantaranya dari sisi sejarah, Tuban dikenal sebagai kota Ronggolawe, dari sisi tradisi, dikenal sebagai kota tuak.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat muslim Tuban lebih suka menyebut sebagai kota bumi wali, karena banyaknya makam wali besar yang tersebar di kota Tuban.

Pemerintah Tuban pernah mengatur dan menertibkan budaya warganya yang suka minum tuak di pinggir jalan agar tidak terlalu vulgar didepan umum.
Namun tradisi minum tuak di Tuban tetap ada dan menghiasi pemandangan sudut desa.
Seperti yang ada di Dusun Krajan desa Mondokan.

Tuban memang kota yang kental akan warna sejarah dan tradisinya.
Sebagai kota bumi wali, nuansa spiritualnya tergolong kental, sejarah membentuk karakter warga, meski tidak seramai dulu, tradisi minum tuak masih ada hingga sekarang, dan entah kapan tradisi ini akan hilang karena tergerus moderenitas dan hingar bingar jaman, atau justru tradisi ini mampu menyesuaikan jaman.

Bagikan :
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Baca Artikel Lainnya

Kabar

Pandemi Virus Corona/COVID-19 ini memang sangat berdampak terhadap aktivitas masyarakat sehari hari. Sebuah organisasi Persaudaraan Keluarga Pelaut Bojonegoro yang bersekretariat di Jalan Barat Perumda...

Kabar

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui BAPPEDA menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) Kabupaten Bojonegoro Tahun 2019. Rakor bertema “Pemantauan...

Kabar

Jumlah pasien ODP berkurang 2 orang menjadi 28 orang, pasien PDP 1 orang. positf 4 orang.

Kabar

Tahun ajaran baru 2020-2021 akan segera aktif di 13 Juli 2020. Dinas pendidikan Bojonegoro sudah mempersiapkan petunjuk teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan...

Copyright © 2020 Tim Digital Bojonegoro Matoh - Redaksi - Kontak