17 September 2026

Warga Perantau Borong Serabi Saat Hari Raya, Pedagang Berlakukan Nomor Antrian

0
IMG20260322083448

Bojonegoro.com – Serabi menjadi salah satu daftar kuliner yang wajib dibeli bagi pemudik saat libur hari raya Idulfitri. Maka tak heran hampir semua warga Bojonegoro perantau selalu meluangkan waktunya untuk memburu kudapan gurih satu ini.

Saat lebaran Idulfitri, ini menjadi berkah bagi penjaja makanan berbahan dasar tepung beras ini. Omset penjualannya bisa melonjak 300 – 400 persen dari hari-hari biasanya. Seperti yang dialami oleh Dwi Indri pedagang kaki lima yang membuka lapak di sekitar Alun-alun Bojonegoro. Saat musim libur lebaran Dwi bersama suaminya membuat adonan serabi 4 kali lebih banyak dari hari biasa.

Membuka lapak di hari ke dua lebaran, dagangan Dwi langsung diserbu penikmat serabi, saking banyaknya warga yang ingin menikmati serabi khas Bojonegoro ini, Dwi sampai memberlakukan nomor antrian bagi calon pembeli dan menambah tungku masaknya yang biasanya hanya 4 tungku, menjadi 10 tungku yang dioperasikan oleh suami dan mertuanya.

“Kalau nggak dikasih nomor antrian takutnya saling berebut minta didahulukan mas, saya sendiri juga yang repot” ujar Dwi, Minggu (22/03/26)

Afifa, salah satu penikmat serabi asal Rengel Tuban yang bekerja di Dinas Pemerintahan kabupaten Lumajang rela mengantri satu jam lebih untuk bisa mendapatkan makanan favoritnya saat dia masih kecil.

“Saya kangen serabi Bojonegoro, dulu saya sekolah dan kuliah di Bojonegoro, setiap mudik saya sempatkan waktu untuk membeli serabi, ini saya mendapatkan nomor antrian 30, satu jam lebih saya antrinya” ungkapnya.

Lain lagi dengan Deddy, Pria kelahiran Bojonegoro yang telah lama hidup di Bandung, dia mengaku rasa, aroma dan tekstur serabi Bojonegoro khas dan selalu ngangeni (dirindukan).

“Saya mendapat nomor antrian 46, tidak apa-apa ngantri lama, demi serabi” selorohnya.

Meskipun harga bahan pokok di hari Idulfitri semua naik, tapi Dwi memutuskan untuk tidak menaikkan harga serabinya.

“Harga masih sama dengan hari biasanya, meski LPG 3 kg langka, harganya tetap enam ribu rupiah per porsi” ujar Dwi.

Serabi Bojonegoro memang memilki rasa yang khas, berbeda dengan serabi Solo maupun serabi Bandung, cara memasaknya masih konvensional, memakai tungku dari tanah liat dan perapian dari kayu bakar, maka tak heran jika serabi Bojonegoro memiliki rasa yang khas yang tidak dimiliki oleh serabi dari daerah lain.

 

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X